Catatan Seputar Permasalahan Mahasiswa-Aktivis


Oleh : A. Ansori ( Aktivis HMI IAIN Madura 13 ) 

Ketika mengulang-ulang bacaan terkait perjalanan tokoh-tokoh mahasiswa angkatan 66. Saya lihat, zaman membentuknya berbeda dengan hari ini. Catatan harian seorang pemikir islam yang cukup liberal, Ahmad Wahib ketika menulis tentang perguruan tinggi dan kemahasiswaan perbedaanya dengan sekarang tidak begitu jauh.  Cuma iklim politik Dan pertarungan ideologi saat itu jauh lebih berkesan ketimbang saat ini.  Ada beberapa point Yang saya tangkap dari catatannya.  Diantaranya,  tipe mahasiswa secara umum ada dua : profesionalisme Dan aktivisme.  Persoalan ini sama dengan tipe mahasiswa saat ini.  Dua-duanya memang kurang bertemu di ujung jalan.  Sejak keberangkatannya,  mahasiswa-profesionalisme memilih jalan menjadi mahasiswa di kampus.  Dunianya dunia kampus.  Mereka cuma paham Dan cepat tanggap pada diktat dosen,  mata kuliah Dan IPK.  

Rata-rata mahasiswa dengan tipe seperti ini cepat lulusnya.  Cepat cari kerja.  Ini Yang sering jadi bahan olokan mahasiswa-aktivis dengan sebutan mahasiswa kupu-kupu.  Mahasiswa dengan rutinitas membosankan;  kuliah-pulang.  Karena fokus mereka dengan diktat dosen,  mata kuliah,  Dan IPK.  Mereka bisa bangga jika mendapatkan nilai cumlaude di masa kelulusannya.  Hal ini pula Yang membuat iri mahasiswa -aktivis ketika foto selfi dengan keluarga dan pacar atau tunangannya. 

Apakah karena demikian,  mahasiswa -aktivis tidak memiliki kebanggaan sendiri?  Mahasiswa-aktivis punya seribu alibi.  Alasan-alasan mereka kadang-kadang ilmiah.  Tentu, ini bisa dikatakan benar sepanjang perjalanan konsisten dengan rutinitas yang membuatnya berkembang. Karena mahasiswa-aktivis dalam pandangan Wahib sebagai student in political forum atau rutinitasnya selalu bersinggungan dengan sosial-politik maka kebanggaan mereka adalah Karena bisa mengadvokasi masyarakat.  Membantu uneg-uneg masyarkat pada mahasiswa Yang sudah terlanjur dianggap malaikat penolong.  

Perlu saya ungkapkan catatan mengenai politik Yang dimainkan mahasiswa. pandangan Fajrul rahman dalam bukunya "Kaum demokrasi tanpa kaum demokrat " politik yang dimainkan mahasiswa adalah politik nilai. Menurutnya, politik yang dimainkan bukan merembes pada politik pragmatis. Politik nilai seperti idealisme, keadilan sosial dan ekonomi, persamaan hak dll. Tidak baik,  jika mahasiswa terkooptasi oleh permainan politik partai atau senior- seniornya.  Apakah mahasiswa -aktivis bisa menjaga independensi etisnya? Tak menjamin tapi perlu usaha Dan kesadaran.  

Persoalan mahasiswa-aktivis sebenarnya ada pada bagaimana mahasiswa-aktivis itu sendiri dalam membangun narasi positif bagi dirinya.  Tetapi, lagi-lagi uraian mengenai masalah yang saya pikir-pikir-tentu bersifat subjektif- perlu dibentangkan satu persatu. Ada banyak masalah yang mungkin bisa dicari solusinya. Mahasiswa-aktivis memang perlu tidak sekedar jadi penggalang Massa.  Tapi juga pemecah kebuntuan.  Penemu sinar mentari di tengah-tengah gelapnya rimbun hutan permasalahan.  

Permasalahan-permasalahan mahasiswa-aktivis bisa dilihat dari beberapa catatan saya terhadap dunia-aktivis.  

Pertama,  pudarnya intelektualitas mahasiswa-aktivis.  Permasalahan ini,  faktornya karena kurang membaca buku,  kurang berdiskusi,  kongkow-kongkow tidak jelas,  perebutan calon anggota dengan cara tidak sehat. Jika dispesifikan pada HMI,  hanya sebatas menjadi anggota tapi tidak menjadi kader.  

Sederetan faktor tersebut mesti diakui.  Indikasi kurang baca buku atau tidak adanya kedekatan dengan buku-buku pegangan mahasiswa-aktivis seperti " pergolakan pemikiran Islam : catatan harian ahmad wahib" , zaman peralihannya Soe hok gie, atau buku pegangan lain yang menjadi penunjang gerakan dan vitamin bagi pikiran mahasiswa-aktivis menjadikan mahasiswa-aktivis sebatas penerima ide,  penonton pertarungan ideologi.  Saya tidak menyuruh secara wajib membaca buku tersebut.  Ada banyak buku lain,  jika memang menunjang perjuangan.  

Sebenarnya,  kalau kita mau jujur Dan berterus terang,  buku Yang dibaca barangkali sudah tidak relevant dengan kebutuhan Dan minat kita sebagai mahasiswa.  Tetapi,  kenapa tidak mencari buku lain? Anekdot bacaan filsafat ketika awal-awal kuliah dan berakhir dengan tips berternak lele dengan sukses, cukup dijadikan bahan candaan. Selain mesti diakui, hidup tidak sebercanda itu.  

Perlu dijadikan bahan catatan,  mahasiswa-aktivis ketika sudah menyelesaikan satu buku saja sudah merasa paling pintar.  Inilah Penyakit mahasiswa-aktivis.  Jika sudah merasa paling pintar merasa paling jago. Esensi aktivis adalah aktif segalanya, berpikirnya aktif, keingintahuannya memuncak. Proses berpikirnya selalu berkesinambungan: jawaban saat ini adalah pertanyaan selanjutnya.  

Jika sudah membaca buku,  maka diskusi akan ikut.  Jika sering diskusi,  kongkow-kongkow semakin jelas,  bukan tidak mungkin mahasiswa lainnya akan ikut nimbrung.  Jika menjadi anggota HmI tidak sekedar ikut-ikutan. 

Kedua,  kampus tidak berfungsi secara semestinya.  Dunia kampus atau universitas seharusnya jadi laboratorium permasalahan.  Ini juga,  kenapa, kampus identik dengan penelitian-penelitian.  Kawah candra dimuka masyarakat adalah kampus.  Terlalu asing dengan masalah masyarakat atau permasalahan mereka sekedar jadi bahan penelitian Demi sebuah honor menjadikan kampus sekedar  tempat orang-orang menyelesaikan rutinitasnya. Diakui memang,  tugas dari dosen semacam tugas perkantoran. Sibuk Dan merasa Selesai dengan urusan administratif.  Akibatnya,  mahasiswa mesti ikut aturan Yang dibuat kebijakan rektor.   anggapan mahasiswa-profesionalisme pada Mahasiswa aktivis sebagai mahasiswa Yang buat kesibukan sendiri Dan dipecahkan sendiri.  Semacam sisifus.  

Ketiga,  telat lulus.  Sesuatu Yang menakutkan bagi mahasiswa profesinalisme,  kesibukan menjadi aktivis menyita waktu Yang cukup banyak.  Permasalahannya ketika, sudah jadi mahasiswa-aktivis,  skripsi keteteran.  Akhirnya,  lulus tidak tepat waktu.  Alibi mahasiswa-aktivis, lulus di waktu Yang tepat.  

Persoalan-persoalan ini semestinya jadi bahan renungan bagi anggota HmI,  sebagai solusinya, anggota HmI mesti berpikir dan mendiskusikannya.  Inti dari semuanya adalah -meminjam pernyataan Sulastomo-jika kita dianggap maling,  bertindaklah sebagai polisi.  Karena demikian, Kader HmI mesti mencari Dan terus menjadi.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HMI Komisariat Tarbiyah IAIN Madura Gelar Aksi Galang Dana Untuk Irham Maulana

Sambut Milad Ke 74, HMI IAIN Madura Gelar Diskusi Publik

Kesuksesanmu adalah Kesempatanmu